© Unsplash.com/Marten Bjork
Tidak sedikit berita hoaks bertebaran di media sosial. Banyak juga orang percaya informasi hoaks tersebut dan meyakini akan kebenarannya.
Twitter kali ini sedang berperang dengan banyaknya informasi sesat atau hoaks. Sejak wabah virus corona merebak, informasi hoaks bertebaran di lini masa Twitter.
Twiiter kini sedang mendorong para penggunanya untuk melakukan diskusi sebuah informasi. Diskusi tersebut berupa para pengguna diharuskan membaca sebuah artikel sebelum di-retweet.
Sebuah judul memang sering kali tidak menjelaskan secara lengkap apa yang ada di artikel tersebut.
" Berbagi artikel dapat memicu percakapan, jadi mungkin kamu ingin membacanya sebelum mentweetnya. Kami sedang menguji sebuah fitur baru agar anda membacanya. Ketika kamu akan me-retweet sebuah artikel yang belum kamu baca, kami akan bertanya apakah anda ingin membacanya terlebih dahulu," tulis salah satu akun pendukung Twitter.
Twitter juga ingin memeriksa apakah kita benar-benar membaca artikel tersebut sebelum membagikannya atau di-retweet, tidak hanya mengandalkan dari sumber atau judul saja.
Nyatanya, langkah tersebut memiliki dampak yang besar bagi Twitter. Menurut data yang diperoleh, banyak link yang tersebar di Twitter tidak pernah diklik.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna hanya bergantung dari judul artikel saja sebelum di-retweet, tanpa membaca artikel tersebut.
Sunita Saligram, Kepala Kebijakan Twitter, sebelumnya pernah mengatakan bahwa " perusahaan berusaha mendorong para pengguna untuk memikirkan kembali sebelum memposting sesuatu karena sering kali mereka berada dalam panasnya momen dan mungkin mereka akan menyesali apa yang mereka posting."
Fitur ini masih dalam tahap uji coba para para pengguna Android. Belum diketahui apakah fitur tersebut bakal ditambahkan ke iOS.
Semoga saja dengan fitur ini dapat meredam informasi hoaks yang beredar di medsos.